Postingan

Buku dan Nyoblos

Seorang kakak tingkat mengirimkan sebuah e-book di grup line LPM kami, LPM Satu Kosong ITS. Mas Beryl sebegitu perhatiannya sampai-sampai ingat dan repot-repot mengajak kami semua membaca buku di tengah-tengah kegabutan libur lebaran sekaligus semester. Jauh hari, sebenarnya aku sudah berencana membaca buku pinjaman dari seorang teman, tapi karena Mas satu ini begitu baik hati mengajak kami produktif dengan rencana akan mendiskusikan buku itu, maka kuletakkan buku pinjaman Mas Shofyan ke prioritas kedua (maafkan saya Mas :" Awalnya, aku yang memang tidak memiliki kecenderungan politik dan bertemu dengan orang-orang seperti Mas Beryl, Mas Idfy--dan teman-teman seangkatan sekalipun seperti Affan, Brian, Wildan--rasanya sedikit risih medengar obrolan mereka soal keadaan politik di dalam dan di luar ITS, soal ideologi, dan soal siapakah politikus favoritmu. Sama seperti membaca buku ini, ketika mengerti kalau ceritanya berkisah tentang zaman Orba dan Reformasi, aku membatin, "M...

Pertemuan, Sirkus Pohon, dan Pendapatku.

Gambar
Sirkus Pohon bagiku adalah keajaiban kedua setelah tetralogi Laskar Pelangi. Keajaiban pula karena telah berhasil kuselesaikan dalam kurun waktu kurang dari sebulan, lebih tepatnya setelah menghabiskan novel teenlit  karya Mas Sayfullan yang dibeli di tahun 2014. Bincang-bincang soal buku dan Pak Cik Andrea Hirata, aku ingat dengan pertemuan bersama Mas Shofyan yang mengejutkan. Barangkali bukan pertemuan pertama, karena kami pernah jumpa di Jogja. Kami hanya belum berkenalan dan saling menghafal wajah di antara 60 peserta KampusFiksi waktu itu. Aku yang kala itu masih SMA, dan sekarang masih maba, dihadapkan pada orang-orang melek sastra macam Pak Edi, tentu saja masih bingung meraba-raba. Mas Daruz, Kak Jihan, dan banyak pula teman-teman KF yang begitu melek dan peka sastra. Aku belum punya cukup ilmu untuk nimbrung obrolan berat soal sastra, sehingga lebih suka jadi pendengar saja. Maka ketika kukatakan hal ini pada Mas Shofyan, juga memberikan pendapatku soal Cantik Itu Lu...

Resensi : Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

Gambar
Sumber gambar: goodreads.com Judul : Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan Penulis : Tasaro GK Cetakan : III Tahun Terbit : 2010 Penerbit : Bentang Tebal Halaman : 639 halaman Buku ini sebenarnya telah saya baca sekitar empat bulan yang lalu, namun tertunda karena terjangan tugas kuliah, kemudian bisa saya lanjutkan lagi hingga tamat pada penghujung tahun ini. Buku ini adalah seri pertama dari trilogi novel biografi Nabi kita tercinta, Rasulullah SAW. Sebelumya, saya tidak pernah membaca novel-novel berbau religi, tapi kemudian buku ini punya tarikan misterius yang membuat saya tidak lagi mengabaikannya. Trenyuh.  Sepertinya, satu kata itu cukup menggambarkan suasana hati saya ketika membaca buku ini. Dalam enam ratus halaman, saya menandai halaman-halaman yang membuat hati saya trenyuh, tersentuh. Tetapi kalau dituruti terus-menerus, bisa-bisa seluruh halaman saya tandai! Hehehe. Bapak Tasaro GK pasti banyak melakukan riset dan menggali informasi untuk menulis...

Seni Menyenangi Hal-Hal Kecil (Writing Challenge Day 5)

Ambil sebuah buku terdekatmu. Jadi, kali ini saya melanggar peraturan. Karena tidak mengambil buku terdekat. Kalaupun dipaksa, tak ada buku yang akhir-akhir sedang giat dibaca, kecuali buku pelajaran. Beberapa minggu lalu, sempat pinjam Ayah  karya Andrea Hirata dari perpustakaan sekolah, meski sekarang terpaksa sudah dikembalikan tanpa menyelesaikannya. Membaca karya Andrea Hirata, rasanya seperti jatuh cinta untuk kedua kalinya setelah dulu pernah melahap habis tetralogi Laskar Pelangi. Sekarang saya memang tidak sedang memegang bukunya, tapi sempat memotret paragraf yang cukup membuat hati siapa saja luluh. "Akhirnya, hujan turun, menghantam atap seng. Amiru memejamkan mata, lama, lambat laun dia mendengar sebuah irama. Dia tersenyum. Dia tersenyum karena ingin seperti ayahnya, yakni dapat menjadi senang karena hal-hal yang kecil. Seni menyenangi hal-hal yang biasa saja, begitu istilah ayahnya yang hanya tamat SMP itu. Amiru ingin menguasai seni itu sampai tingkat ayahnya...

Sediam Apapun, Namanya Tetap Cinta (Writing Challenge Day 4)

Ini sudah memasuki hari keempat "7 Hari Tantangan Menulis #KampusFiksi dan #BasaBasiStore". Iya, memang saya sudah sangat terlambat. Lagipula, saya juga tidak begitu mengharapkan hadiah bukunya-- well , meskipun kalau berkesempatan menang ya Alhamdulillah. Hehehe. Setidaknya, ada topik yang bisa ditulis untuk mengisi blog. Bicara tentang cinta, remaja jaman kini mana yang tak kenal dengan istilah tersebut? Bagi sebagian besar orang, kata  baper  mungkin sudah menjadi pengganti kata cinta. Tapi, bagi saya cinta tak sekadar itu. Cinta adalah kata benda abstrak, tak berwujud. Bisa menjelma dari dan menjadi kebencian luar biasa. Atau jenis perasaan lainnya. Mungkin juga perilaku-perilaku tak terduga. Cinta bukan hanya sesuatu yang muncul dari kebiasaan, pandangan pertama, atau kerupawanan. Definisi cinta, adalah sesuatu yang terdefinisikan. Manusia memang hidup dengan rasa iri, tersinggung, marah, ketidakpedulian, kecuekan, juga perasaan-perasaan atau sikap lainnya. Tapi sa...

Perpisahan di Malam Tahun Baru (Catatan)

Gambar
Sudah jadi kebiasaan bagi adik sepupuku, untuk selalu pergi berlibur ketika musim liburan. Dari sekian pilihan kota sanak saudaranya, Pasuruan selalu jadi yang paling favorit. Ia suka menginap di rumah pakdhe dan budhenya, meskipun ketika di Pasuruan sendiri belum tentu mereka bersedia mengajak pergi berlibur. Ayah selalu menyukai adik sepupuku yang satu itu; berikut pula dua adik perempuannya yang masih bayi-bayi. Ayah selalu bersedia menjemput mereka untuk dibawa menginap di Pasuruan.  Tetapi, liburan kali ini ada beberapa hal mendesak. Saudara sakit. Mendekati penghujung liburan, baru ada kesempatan dan hari kosong untuk mengunjungi adik sepupu. Hari Sabtu kemarin, hari terakhir di 2016, kami bertiga--aku, Ayah, dan Ibu, tidak termasuk kakakku karena beliau sudah berangkat kuliah--pergilah ke Malang untuk menjemput adik sepupu. Tak ada yang begitu mengesankan di perjalanan, kecuali fakta bahwa macet hinggap di setiap ruas jalan. Ada sedikit rasa bete  waktu per...

Resensi: Dilan Bagian Kedua (Dia Adalah Dilanku Tahun 1991)

Gambar
(Sumber gambar: goodreads.com) Judul : Dilan Bagian Kedua (Dia Adalah Dilanku Tahun 1991) Penulis : Pidi Baiq Cetakan : VIII Tahun Terbit : 2015 Penerbit : Pastel Books Tebal Halaman : 344 halaman Ini adalah resensi terbaruku, setelah sekian lama menunda-nunda diri membaca novel. Alhamdulillah. Pada akhirnya, aku berhasil mendorong diri pada detik-detik terakhir kisah Milea-Dilan ini. Buku ini adalah sekuel kedua, dari buku pertama yang bisa kalian lihat resensinya di sini .  Dengan gaya bahasa yang sama dengan novel pertama, Pidi Baiq berkisah tentang masa lalu, yaitu masa-masa SMA yang tak bisa dilupakan Milea, terutama tentang Dilan. Benar. Jika kalian pernah mendengar sekelumit tentang Dilan, maka itu benar bahwa Dilan memang seseorang yang memperlakukan perempuan secara istimewa, melalui caranya yang berbeda.  "Terus, soal kamu bohong, kata Dilan apa?" tanya Wati. "Katanya: Kalau kamu bohong, itu hak kamu, asal jangan aku yang...

Paper Towns (Ulasan)

Gambar
Jauh sebelum tertarik pada cerita ini, sebenarnya aku sudah berkali-kali berpapasan dengan novel ini beberapa kali, masih dengan cover yang sepertinya cetakan lama sebelum film-nya dibuat. Kemudian aku menemukan sebongkah folder berisi film adaptasi dari novel ini dari laptop temanku. Berawal dari sana, aku tak lagi membiarkan diriku berpapasan dengan buku itu lagi secara sia-sia. Ada satu hal penting yang membuatku kemudian jatuh cinta pada buku ini. Kali pertama aku menonton filmnya ( well , bisa kau katakan aku sangat terlambat menonton filmnya) aku sejujurnya tak mengerti alur cerita yang dipersembahkan Margo dan Quentin. Ambigu, begitu menurutku. Satu hal yang kuketahui bahwa cerita Paper Towns ini mendongengkan kita tentang satu hal absolut yang tidak bisa dihapuskan sepenuhnya dari kehidupan manusia : menilai seseorang. Aku tertarik memecahkan ketidakpahamanku ini dengan cara membaca versi novelnya. Kemudian pemahamanku bertambah. Novel ini menceritakan tentang seora...

Penduduk dan Lingkungan, Apa Sih Hubungannya?

Gambar
Halo, kawan-kawan  blogger ! Kali ini, saya ingin sedikit berbagi mengenai pemikiran saya. Apa yang saya tulis kali ini adalah mengenai keterkaitan pertumbuhan jumlah penduduk terhadap alam dan lingkungan. Sebelumnya, apa sih penduduk itu? Menurut KBBI, penduduk adalah orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat. Sehingga apabila kita mendiami tempat A, maka kita adalah penduduk A. Sesuai definisi tersebut, penduduk hidup di suatu tempat dan tidak bisa dipisahkan dengan lingkungannya. Manusia hidup berdampingan bersama lingkungan dan alam. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia mendapatkan segala kebutuhannya dari alam. Oksigen, air, tanah, pakaian, bahan makanan dan minuman, semuanya didapatkan dari alam. Selain itu, manusia dengan kodratnya sebagai makhluk hidup juga senantiasa beranak-pinak dan melanjutkan keturunan. Hal ini sudah menjadi kebutuhan biologis bagi tiap makhluk hidup, yaitu untuk melestarikan jenisnya. Menurut data sensus penduduk tahun 2010, jumlah pend...

Resensi : Max Havelaar

Gambar
(Sumber gambar : 3.bp.blogspot.com) Judul                  :  Max Havelaar Penulis               :  Multatuli Cetakan             :  VI Tahun Terbit     :  2015 Penerbit            :  Qanita, Bandung Tebal halaman :  477 "Ya, aku akan dibaca! Seandainya tujuan ini tercapai, aku akan merasa puas. Karena aku tidak bermaksud untuk menulis dengan baik... Aku ingin menulis agar didengar. " --hal. 462 Seperti yang pernah aku janjikan, bahwa aku akan menulis resensi mengenai buku klasik Max Havelaar  ini, tetapi tetap dari kacamata seorang siswa awam ya... Setelah waktu-waktu sulit dan penundaan berkali-kali yang tak terhitung, aku akhirnya bisa menyelesaikan 20 Bab dalam buku ini. Sebenarnya, aku sudah kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan padamu apa bagusnya buku ini--...

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Gambar
Well , setelah membaca judul di atas, jangan mengira saya akan mengkritisi pemerintahan atau jalannya sistem politik di negeri kita ini. Sebagian besar kawan pembaca pasti sudah tahu, bahwa judul di atas tersebut adalah judul sebuah film Indonesia. Saya sungguh sangat-sangat-sangat terlambat menonton film keluaran 2010 ini pada tahun 2016. Tetapi, kurun waktu 6 tahun itu tidak mengubah realitas negeri yang terpotret dalam film tersebut, dan saya merasa, tulisan ini mungkin bisa mengingatkan sejenak kawan-kawan pada pesan moral yang  terkandung di dalamnya. Ini adalah film drama komedi satire. Menceritakan tentang kisah seorang Muluk yang mencintai para bocah-bocah pencopet. Pencopet . Bayangkan, bisakah kalian menyayangi bocah-bocah seumuran kelas 4 SD yang pekerjaannya sehari-hari mencopet? Bocah-bocah yang berpakaian dekil, kotor, hitam, yang bisa membuat kalian jijik pada mereka, bahkan hanya dengan melihat saja? Bisakah kalian menyayangi bocah-bocah yang, ketika berada di d...

Resensi : Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990)

Gambar
(Sumber gambar : ayahpidibaiq.blogspot.com) Judul  :  Dilan (Dia Adalah Dilanku Tahun 1990) Penulis  :  Pidi Baiq Cetakan  :  XIII Tahun Terbit  :  2015 Penerbit  :  Pastel Books Tebal Halaman  :  330 halaman Awalnya, aku sedang membuka-buka instagram dan men- scroll down  beranda. Tiba-tiba muncul foto seorang penulis idolaku, Sri Izzati, tengah berfoto dengan seorang pria muda paruh baya, sekitar 40-an tahun bernama Pidi Baiq, dengan caption  bahwa beliau tengah menghadiri launching  sebuah buku berjudul Dilan 2, bersama semua penggemar Dilan dan Milea yang lain. Oke. Aku tak paham apa maksudnya. Lalu tiba-tiba, suatu hari aku mampir ke Gramedia dan menemui buku yang judulnya Dilan, dengan nama Pidi Baiq terukir sebagai penulisnya. Karena dorongan bahwa penulis idolaku--Sri Izzati--membaca novel tersebut, maka kubelilah juga novel itu. "Milea, kamu cantik, tapi aku belum men...